Berteman Saat Pandemi

Kita boleh punya sejumlah pengikut di media sosial dan tetap merasa kesepian. Kenapa? Mungkin memang begitu arti pertemanan saat ini. Hanya sekadar untuk mengisi waktu luang atau meramaikan media sosial kita. Tak masalah, selama kita masih punya teman, kan?

Pandemi memang mengubah segalanya. Dari kebebasan bergerak, beraktivitas hingga bertatap muka. Semua berubah. Kita jadi manusia yang tidak bebas untuk melakukan segala sesuatu senormal dulu. Mungkin masih lama untuk bisa kembali ke kata normal, atau bahkan mungkin sudah saatnya bilang, “Apa itu normal?” Kenalkan; ini era normal yang baru. Dan apa efeknya bagi pertemanan kita?

*Tentukan Prioritas*
Pandemi bukan hanya menjadi tantangan bagi setiap orang, tapi juga bisa bikin stres. Dan, setiap orang harus punya cara untuk mengatasinya, kan? Nah, jadi, tergantung prioritas yang kita pilih saat ini. Selama kita terus berkumpul bersama keluarga di rumah, mungkin bisa jadi prioritasmu adalah keluarga. Atau mungkin bisa juga /meeting-meeting online /dengan segala kesibukan pekerjaan selama Work From Home. Belum lagi urusan domestik di rumah. Semua pasti ada tantangannya tersendiri. Lalu, di mana letak pertemanan dalam prioritas hidup kita saat ini? Semua itu tergantung pada seberapa heboh antara hidup di rumah dan di ‘kantor virtual’. Seimbang itu sulit, ketika semua dilakukan dari satu tempat yang sama. Karena kecenderungannya adalah kita akan lebih fokus pada satu hal, yaitu: rumah.

*Kurang Tantangan*
/Well/, kalau dulu, semakin jarang ketemu itu bikin rindu. Tapi sekarang, semakin jarang ketemu, kok ya biasa saja? Kecuali sama pacar. Itupun bisa diobati lewat /videocall/. Ah, terlalu mudah, ya solusinya. Kurang seru. He..he.. Pertemanan saat pandemi serba difasilitasi sama media sosial. Bahkan banyak orang yang lebih mudah dihubungi lewat /direct message/ di media sosialnya, lho ketimbang lewat hapenya langsung. Kalau tantangannya mudah begini, apakah mungkin hubungan pertemanan kita bisa melewati ujian yang lebih berat dari ini? Kata orang, teman sejati itu, teman yang selalu bareng kita saat suka dan duka. Entahlah. Agak sulit ya membayangkannya. Ketemu saja jarang.

*Si Pengisi Waktu Luang*
Jadi, jangan salahkan juga, bahwa pada akhirnya, setelah melewati skala prioritas dan frekuensi tatap muka yang semakin hari semakin berkurang, akhirnya arti pertemanan kita menjadi semakin bergeser. Dalam dunia maya, mungkin teman adalah segalanya, tapi begitu masuk ke dunia nyata (yang belum tahu kapan bisa kembali ke kehidupan normal tadi), apakah masih ada teman yang masih benar-benar teman sejati saat ini? /Eits/, bukan berarti tak ada, lho. Tapi mungkin berkurang atau paling tidak, hanya tersisa beberapa orang saja. Selebihnya, mungkin posisinya sekarang sudah berada di ‘Si Pengisi Waktu Luang’. /No problem/. Saat ini, mungkin yang kita sangat butuhkan adalah justru banyaknya si pengisi waktu luang tadi. Mungkin itulah arti pertemanan yang sesungguhnya, pada masa pandemi ini.

Jangan salahkan pandemi. Jangan salahkan juga orang lain, atau bahkan diri sendiri. Tidak ada yang salah, kok. Semua sah-sah saja terjadi. Yang namanya pertemanan pasti ada ujiannya. Dan kalau pandemi ini menjadi tes yang harus dilalui bareng teman kita, tak ada salahnya, kan?

Join the discussion

Further reading

Musim Pandemi Season 2

Kalau serial televisi kita bakal tayang segera /season/ berikutnya pasti kita girang banget. Tapi tidak dengan /season/ berikutnya dari musim yang...

Menu

Subscribe

Recent posts