Musim Pandemi Season 2

Kalau serial televisi kita bakal tayang segera /season/ berikutnya pasti kita girang banget. Tapi tidak dengan /season/ berikutnya dari musim yang satu ini. Rasanya mumet, sedih, campur aduk. Nah, tapi, di sisi lain, kita tetap harus girang, terus dan terus dalam menghadapi pandemi ini. Kenapa? Karena itu adalah salah satu syarat agar daya tahan tubuh kita bisa tetap terjaga. Jangan panik dulu. Baca terus ya.

Tidak terasa musim pandemi di Indonesia sudah memasuki /season/ berikutnya. Keriuhan gelombang kedua dari masuknya virus corona ke Indonesia, seolah membawa arti tersendiri. Sebagian besar dari kita merasakan dampaknya. Tanpa terasa, virus corona tampak ‘semakin dekat’ ada di sekitar kita. Teman, sahabat, saudara, /inner circle/ atau bahkan mungkin kita sendiri sudah mulai merasakan dampaknya. Tidak terbayang bakal begini. Tapi, mungkin memang harus dijalani seperti ini.
Sekarang tinggal mengatur /response/ kita dalam menghadapi pandemi /season/ 2 ini. Kata orang, kita harus tetap gembira, girang, senang, /happy/, bahagia, apa lagi ya kata positif lainnya? Sulit memang. Siapa bilang mudah? Tapi mungkin hal berikut bisa jadi /trick/-nya.

1. *Detoksifikasi Diri*
/Sorry/ kalau proses detoksifikasi yang satu ini tidak melibatkan jus buah-buahan maupun sayuran. Karena sejujurnya, ini hanya agar kita bisa merasa lebih bahagia saja. Caranya? Coba tinggalkan dunia media sosial sejenak. Detoks diri dari candu media sosial. Karena media sosial bukan hanya terkadang bisa membuat kita makin merasa kesepian dalam kehidupan nyata, tapi juga bisa bikin kita jadi kompetitif terhadap hidup ‘yang ditampilkan’ oleh teman di media sosialnya. Dan, itu bahaya. Kita bisa iri tak henti, bahkan jadi selalu menginginkan kehidupan seperti /feed/ teman di media sosial, yang sebenarnya juga belum tentu sebahagia seperti yang kita lihat. Dengan mengerem diri sejenak dari melihat betapa ‘indahnya’ hidup orang lain, mungkin Anda bisa merasa lebih tenang, dan nyaman dengan kehidupan sendiri. Bersyukur, itu kuncinya.

2. *Coba Hal Baru*
Di salah satu rumah sakit di Klaten, disebutkan bahwa para pasien yang terserang Covid diajak melakukan kegiatan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya selama di rumah sakit, seperti kegiatan memancing, berjemur dan senam bersama. Wah, senangnya. Ini dengan harapan, selain melalui perawatan intensif dan pemberian vitamin serta obat setiap hari, pasien juga akan bisa meningkatkan kekebalan tubuhnya dengan merasa berbahagia lewat aktivitas-aktivitas tadi. Nah, jadi sekarang giliran kita yang mencobanya. Jangan cuma sibuk berkutat dengan pekerjaan dan kegiatan yang itu-itu saja setiap harinya. Coba kegiatan alternatif lainnya. Spontanitas dan ide ‘gila’ itu diperlukan di saat seperti ini. Tekuni hobi baru, atau cari ide-ide untuk melakukan hal sederhana yang mungkin belum pernah kita lakukan sebelumnya. Biar hidup jadi lebih girang, dan hati pun senang, sehingga imun kita terjaga. Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

3. *Ngobrol Receh*
Apa sih itu? Tidak perlu didefinisikan terlalu serius. Namanya saja: ngobrol receh. Cemen. Santai. Tak ada isi juga tidak masalah. Tidak ada yang membatasi. Sebagai contoh: /podcast/ Teman Ngobrol ini. Tidak ada batasan tertentu bagi /host/-nya dalam membicarakan segala hal. Kalau ada yang salah, ya maaf, tolong diperbaiki. Tapi kalau suka, ya lanjut, dengar terus. Tidak usah ragu. Obrolan dua teman lama ini memang terkadang tidak nyambung, terkadang tidak jelas arahnya, terkadang lucunya internal banget, cuma mereka yang mengerti /jokes/ yang mereka lempar, tapi terkadang mereka juga bisa serius. ‘Receh’ di /podcast/ ini sudah dibangun sejak dulu, sejak awal mereka berteman. Mungkin bukan hanya obrolan mereka yang sebenarnya receh, tapi juga pertemanannya.

Join the discussion

Further reading

Berteman Saat Pandemi

Kita boleh punya sejumlah pengikut di media sosial dan tetap merasa kesepian. Kenapa? Mungkin memang begitu arti pertemanan saat ini. Hanya sekadar...

Menu

Subscribe

Recent posts